Selasa, 30 Agustus 2011

Isi Khutbah Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA

Berikut isi teks khutbah Bapak Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA yang disampaikan pada khutbah shalat Idul Fitri 1432 H. di lingkungan perumahan Pondok Sukmajaya Permai, Depok. Khutbah yang ditulis di sini merupakan teks khutbah yang menggunakan huruf Latinnya saja.

Idul Fitri : Meluruskan Kembali Fitrah Kehidupan
Teks Chutbah `Id al Fitri 1432 H/2011 M
Oleh : Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA
Di Sukmajaya Depok

Kaum muslimin yang berbahagia

   Pada hari ini kaum muslimin di seluruh dunia  sedang menghadapkan wajahnya ke arah yang sama dan mengumandangkan takbir, tasbih dan tahmid yang sama, ada yang di masjid, ada yang di lapangan dan di tempat-tempat lain. Semuanya mengumandangkan tahlil, takbir dan tasbih, mengagungkan dan mensucikan asma Alloh s.w.t. Kita semua sedang merayakan hari raya Idul Fitri, satu hari yang dinisbahkan dengan ungkapan syukur setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Idul Fitri juga dinisbahkan sebagai hari dimana orang yang telah berpuasa, mencapai tingkat keadaan terampuni;  kembali kepada fitrahnya sebagai insan, `id ila al fitrah..

1. Fitrah Manusia
Allohu Akbar 3x
Kaum muslimin yang berbahagia

      Manusia adalah satu-satunya mahkluk yang bisa menjadi subyek dan obyek sekaligus. Ia bisa merenungkan tentang diri sendiri, mengukur diri sendiri dan menyalahkan diri sendiri. Kenapa ? karena sesuai dengan firman Allah dalam al Qur’an, manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk psikologis yang sempurnya (laqad kholaqna al insana fi ahsani taqwim). Manusia memiliki kapasitas-kapasitas yang memungkinkannya mencapai derajat tinggi sebagai makhluk yang bermartabat, jika ia memelihara martabatnya sebagai makhluk yang mulia. Tetapi manusia juga bisa terjerembab ke lembah kenistaan yang sangat nista, jika ia menyimpang dari fitrahnya sebagai makhluk yang mulia, ( tsumma rodadnahu asfala safilin)

     Fitrah adalah keadaan semula jadi manusia, yang merupakan desain kapasitas . Menurut fitrahnya, pada dasarnya manusia adalah baik, oleh karena itu jika manusia melakukan kebaikan, ia dapat melakukannya dengan mudah (laha ma kasabat). Sebaliknya jika manusia memilih melakukan kejahatan, maka ia harus bersusah payah berperang dulu melawan nuraninya, karena kejahatan itu bertentangan dengan bisikan hati nuraninya (wa`alaiha ma iktasabat). Jika Rasul bersabda bahwa semua bayi lahir dalam keadaan fitrah, (kullu mauludin yuladu `ala al fitrah) maknanya bahwa indicator fitrah manusia dapat dilihat ketika ia masih bayi. Meski bayi yang baru dilahirkan dalam keadaan basah oleh cairan dan menangis, tetapi ia tetap menarik, ibu nya tersenyum, ayahnya tersenyum lebar, kakek neneknya juga menyambut dengan riang gembira. Bahkan ketika sang bayi digendong kemudian pipis, ia dikatakan wah…bayinya sudah pintar, sudah bisa pipis. Pipis pun dipandang prestasi. Jadi pada dasarnya, manusia adalah mahkluk yang jujur, simpatik dan memancing kasih sayang.
       Hanya saja, bersamaan dengan pertambahan umur,  pertambahan kepandaian dan pertambahan karir, manusia sering menyimpang dari fitrahnya. Anak usia kelas enam SD sudah bisa berbohong, ketika remaja sudah bisa tawuran dan ketika dewasa kenakalannya meningkat dan bahkan bisa menjadi jahat. Lebih dahsyat lagi adalah kenakalan yang dilakukan orang tua, kenakalan orang yang sudah mencapai jabatan yang tinggi atau bisnis yang besar.  Jadi kejahatan adalah penyimpangan dari fitrah manusia. Jika masyarakat dari suatu negeri banyak melakukan penyimpangan dari fitrahnya, misalnya korupsi, merusak, anarkis dan sadis, maka negeri itu pasti tidak nyaman untuk ditinggali. Tetapi jika masyarakatnya memelihara fitrahnya sebagai makhluk yang bermartabat, jujur, simpatik dan penuh kasih sayang, maka negeri itu pasti indah serasa surga.

2. Pilar-Pilar Negeri Bermartabat
Allohu akbar 3x
Kaum muslimin yang berbahagia

       Negeri kita Indonesia, dibangun oleh para pendiri negeri ini dengan semangat luhur yang disertai keyakinan kepada Tuhan, sehingga dalam pembukaan UUD 45 disebutkan; Atas berkat Rahmat Alloh  disertai keinginan luhur, bangsa ini mencapai kemerdekaannya. 66 tahun sudah negeri ini berdiri, presiden sudah silih berganti,  orde juga sudah sering berganti.  Jatuh bangun dan pasang surut sejarah telah kita alami, dan sekarang kita sedang berusaha keluar dari krisis yang menimpa bangsa ini.

        Dari perjalanan sejarah selama 66  tahun ini dapat kita tarik pelajaran, bahwa krisis yang menimpa negeri ini antara lain disebaban karena ketidak-konsistenan kita, terutama para pemimpin negeri ini terhadap cita-cita kemerdekaan. Tuhan telah memberikan kepada bangsa Indonesia alam yang sangat kaya dan indah. Tetapi kita warga bangsa yang belum bisa mengelola negeri ini dengan benar sehingga kekayaan dan keindahan itu dapat kita rasakan hingga ke generasi mendatang. Negeri ini akan menjadi surga atau neraka, sangat bergantung kepada kita sebagai warganya.

     Menurut hadis Nabi, suatu negeri  dapat dijadikan sebuah taman yang indah, jika disangga oleh enam pilar;

Addunya bustan, tuzuyyinat bi khomsati asyyaa;bi `ilmil `ulama, wa `adlil umara, wa amanatit tujjar, wa sakhawatil aghniya, wad a`watil masakin, wa nashihatil muhtarifin

 
Artinya; Dunia adalah taman, jika ia dihiasi oleh lima/enam hal;  (1) oleh ilmunya ulama (2) adilnya umara, (3) kejujuran pengusaha,(4) kontribusi orang kaya (5) doanya orang msikin dan (6) disiplin para pekerja.


      a. Pilar 1; ilmunya ulama


Yang dimaksud ilmunya ulama sebagai pilar negeri adalah konsep yang ilmiah. Konstitusi, UUD, Peraturan yang dibuat di negeri ini haruslah ilmiah, logis, masuk akal dan dapat diuji oleh kritik. Jika konsepnya benar atau ilmiah, maka jalannya negeri ini akan menuju ke arah yang benar.

  1. Pilar 2; keadilan Umara

 Sebaik apapun konsep, jika pelaksanaannya tidak konsisten maka, keilmiahan Undang-undang dan peraturan menjadi tak berdaya guna. Nah yang bertugas menegakkan konstitusi dan peraturan adalah penguasa, atau pemerintah atau umara menurut bahasa agama. Adil artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jika Pemerintah mampu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai dengan konsepnya yang benar, maka tatanan kehidupan masyarakat akan tertib dan bermartabat. Karena menegakkan keadilan itu bukan pekerjaan mudah, maka pemegang kekuasaan (umara) haruslah orang kuat. Karena kekuasaan sering menggoda, maka diperlukan adanya system pengawasan, baik oleh aturan maupun oleh masyarakat, sehingga peluang menyimpang dari prinsip keadilan tidak mudah terbuka.

        c. Pilar ketiga; Kejujuran Pedagang

        Pedagang adalah mereka yang berjasa mendekatkan konsumen dari kebutuhannya, dan untuk itu mereka boleh mengambil untung yang wajar. Pedagang yang jujur akan menumbuhkan rasa aman (trust) masyarakat, sebaliknya kecurangan pedagang menjadikan hati masyarakat was-was. Pedagang yang jujur akan menjadi pilar masyarakat yang bermartabat, sebaliknya pengusaha yang curang bisa membuat suatu bangsa mengalami krisis atau bahkan kebangkrutan. Rasululloh sangat mengapreasi pedagang yang jujur (attajir as shaduq) sehingga beliau mengatakan bahwa pedagang yang jujur kelak akan duduk di sisi Nabi di sorga.

  1. Pilar ke empat; kedermawanan orang kaya

        Tidak semua orang bisa menjadi kaya, oleh karena itu sudah selayaknya orang kaya  memperoleh penghormatan dari masyarakat. Kata Nabi, kedermawanan orang kaya akan menjadi pilar dari masyarakat atau bangsa yang bermartabat. Oleh karena itu orang kaya tidak perlu dimusuhi. Kuncinya ialah bahwa orang kaya harus memiliki pemihakan kepada masyarakat luas’ Al Qur’an menyebutkan bahwa didalam harta si kaya ada hak-hak orang lain yang membutuhkan (wafi amwalihim haqqun lissa ili wal mahrum) dan dalam hal ini Umaro bisa melakukan regulasi agar kelompok orang kaya di samping memperoleh penghargaan juga diatur agar kontribusi sosialnya lancar dan tepat guna.

  1. Pilar ke lima; doanya orang miskin
       Pada masyarakat di mana orang kaya berpihak kepada orang miskin, maka orang miskin akan mendoakan dan membela orang kaya. Oleh karena itu kedermawanan orang kaya akan berperan dalam membangun harmoni social sekaligus menghilangkan kecemburuan sosial,

  1. Pilar ke enam; disiplin para pekerja

    Pekerja atau buruh adalah mereka yang menggantungkan hidupnya pada pekerjaannya, karena modalnya hanya tenaga dan keahlian. Dalam tatanan masyarakat modern, kaum pekerja bisa menjadi kekuatan politik, bahkan bisa mendirikan sebuah partai yang disebut partai buruh. Hubungan harmonis antara majikan dan pekerja adalah pada pemberian upah yang memadai. Dalam hal ini, umaro bisa menjadi jembatan dalam membangun hubungan harmoni antara majikan dan pekerja. Jika masyarakat pekerja disiplin dalam pekerjaannya, maka pelayanan public akan lancar,  kehidupan sosial akan harmoni. Ekploitasi kepada kaum pekerja dalam waktu lama akan bisa menjadi bom waktu yang cepat atau lambat akan meledak, melahirkan anarki.

3. Prasyarat datangnya berkah

Allohu Akbar 3x
      Kaum muslimin yang berbahagia

     Selama krisis menerpa negeri ini, kita merasakan adanya kegersangan, adanya keanehan dan adanya ketidakpastian. Sungguh aneh, di negeri yang amat subur, kok  banyak yang  miskin. Di negeri yang mayoritas penduduknya beragama kok banyak korupsi dan perilaku anarkis. Hutan yang mestinya memberi kesejukan, justru gundul dan terbakar, dan bukan udara segar yang kita terima tetapi kabut asap. Penduduk besar yang mestinya menjadi potensi SDM, justru menjadi beban. Kita suka impor barang kemewahan dari luar negeri, tapi yang  kita ekspor ke luar negeri hanya tenaga kerja kasar dan babu yang upahnya rendah.

        Itu semuanya berkaitan dengan hilangnya keberkahan dari negeri ini.  Berkah adalah daya guna nikmat secara optimal. Ada negeri yang tidak memiliki sumber daya alam, tetapi rakyatnya makmur. Kita kaya dengan sumberdaya alam, tetapi kita miskin. Kenapa ? ya karena daya guna nikmat sumberdaya alam tidak optimal, atau tidak berkah. Kenapa keberkahan bisa hilang ? menurut al Qur’an, berkah itu harus didukung oleh infrastruktur.


 Artinya : seandainya penduduk suatu negeri perilakunya mencerminkan iman dan taqwa, niscaya  Aku buka pintu berkah, baik dari langit maupun dari dalam bumi. Sayang mereka mendustakakan Ku, maka Aku timpakan kepada mereka hukuman sesuai dengan apa yang mereka perbuat.(surat al ~A`raf 96)

       Berkah dari langit, bisa berupa hujan dan kehangatan matahri dan udara yang sehat. Berkah dari bumi bisa air, minyak, emas, batu bara, gas dan juga tumbuh-tumbuhan. Seandainya itu semua menjadi berkah, maka kemakmuranlah yang akan dinikmati. Sebaliknya jika keberkahan ditarik oleh Tuhan, maka hujan menjadi bencana banjir, hutan menjadi  perusak ekosistem, gas menjadi lumpur seperti yang sedang dialami oleh saudara-saudara kita di Sidoarjo. Energi gas yang melimpah malah dijual dengan sangat murah seperti yang diramaikan dengan kasus gas Tangguh, Kenapa begitu ? karena perilaku kita tidak mencerminkan iman dan takwa.

Wujud iman dan takwa dalam tatanan kehidupan sosial adalah bersih, jujur, disiplin, adil, tertib, sederhana dan rendah hati. Hidup kotor dan glamourisme akan mendatangkan penyakit, Ketidak-jujuran akan menimbulkan ketimpangan, ketidak-adilan akan melahirkan anarki, dan kesombongan dan glamourisme akan menjerumuskan kita pada kemubaziran.

Allohu akbar 3x
Kaum muslimin yang berbahagia

Meski bangsa masih menghadapi  berbagai kesulitan, kita tidak boleh berputus asa, karena sebagai ummat yang beragama, kita yakin akan pertolongan Alloh swt. Selagi kita bersungguh-sungguh berusaha dan bermohon kepada Nya, niscaya Alloh akan mengabulkan doa kita. Belajar kepada semangat Romadlan di mana dulu pada bulan Romadlan pula proklamasi kemerdekaan negeri kita dikumandangkan, maka marilah dengan semangat Ramadan dan semangat Idul Fitri, kita berusaha membangun kembali negeri ini, mari kita bangkit kembali dari keterpurukan yang menimpa negeri kita. Jangan kita takut kepada kesulitan, karena Tuhan menjanjikan kepada kita, jika perilaku kita mencerminkan iman dan takwa, maka kata Alloh, dibalik kesulitan ada kemudahan, (inna ma`al `usri yusra).  Mari kita atasi satu persatu problem kita, karena seperti yang dikatakan oleh filsafat Cina, bahwa tidak akan ada angka seribu jika tidak ada yang memulai dengan menulis angka satu.

Memang, menyerukan gagasan-gagasan mulia pada era global sekarang seperti orang menebar benih di musim kemarau, tidak mau tumbuh. Tetapi jika kita tidak mau menebar juga, nanti ketika musim hujan yang tumbuh hanya alang-alang. Oleh karena itu mari jangan bosan untuk terus menerus menyerukan kebenaran meski tidak laku, karena hukum mengajarkan bahwa tidak ada gelap yang selamanya. Pada saatnya nanti suara kebenaran akan menjadi rujukan utama.

Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Alloh s.w.t. berdoa untuk kita, untuk keluarga kita, untuk negeri kita dan juga untuk saudara-saudara kita di belahan bumi yang lain, di Afganistan, di Irak, di Palestina, kiranya Alloh menurunkan berkahNya kepada kita semua

Wahai Tuhan yang berkuasa memudahkan semua kesulitan,
wahai  Tuhan yangberkuasa mengumpulkan segala  yang berpisah,
wahai Tuhan yang menjadi sahabat bagi  setiap orang yang kesepian,
Wahai  Tuhan yangberkuasa  mencukupi kebutuhan bagi setiap orang yang kekurangan,
wahai Tuhan, Pemberi  kekuatan  kepada si  lemah,
wahai Tuhan yang memberikan rasa aman bagi setiap orang yang dilanda ketakutan,
Berilah kemudahan pada kami 
atas segala kesulitan-kesulitan kami,
karena menghilangkan kesulitan itu mudah saja bagi Mu ya Allah.

Ya Alloh ya Tuhan kami,
Tunjukkanlah kepada kami bangsa Indonesia, rakyatnya dan pemimpinnya,
Pada jalan Mu yang lurus, jalan yang telah dicontohkan oleh para Nabi, syuhada dan salihin,
Bukan jalan dari orang-orang yang Engkau murkai
Dan bukan jalan dari orang-orang yang tersesat

Ya Alloh ya Tuhan kami,
Perlihatkan kepada kami bangsa Indonesia, yang benar ya Alloh nampakkan sebagai kebenaran, dan berilah kekuatan kepada kami untuk senantiasa mengikutinya.
Perlihatkan pula kepada kami ya Allah, yang salah nampakkan sebagai kesalahan, dan berilah kekuatan kepada kami untuk senantiasa menjauhinya.

Ya Alloh ya Tuhan kami, kami menyadari selama ini kami banyak melakukan kesalahan dan kekeliruan,
Tetapi ya Allah, jangan Engkau hukum kami
Jangan pula kau timpakan beban berat seperti yang pernah Engkau timpakan kepada bangsa-bangsa sebelum kami,
Dan jangan pula Engkau bebankan kepada kami, beban berat yang kami tidak sanggup untuk menanggungnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar